PENDIDIKAN

Begini Rekomendasi Pakar Semiotika ITB Tentang Desain Ruang Belajar Siswa SD dan Sekolah Menengah

Foto AYU NOVIYANI Oleh AYU NOVIYANI • 14 June 2026
Begini Rekomendasi Pakar Semiotika ITB Tentang Desain Ruang Belajar Siswa SD dan Sekolah Menengah


BANDUNG | KATANYA.ID, - Desain ruang belajar siswa bukan hanya infrastruktur fisik sebagai tempat belajar, melainkan juga konstruksi arsitektural substansial sarat makna yang berpengaruh dalam membentuk diri siswa yang berkarakter dan kreatif. 


Desain ruang belajar harus menjadi pertimbangan dalam pemutusan kebijakan dan penyusunan sistem pendidikan kedepan. 


Demikian hasil kajian Profesor Dr Acep Iwan Saidi, Pakar Semiotika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berjudul "Kajian Semiotika: Ideologi dan Kekuasaan di Balik Desain Ruang Belajar Siswa Sekolah Dasar dan Menengah di Indonesia".


Menurut Profesor Acep Iwan Saidi atau akrab disapa Prof Ais, subjek yang berkarakter dan kreatif hanya dimungkinkan jika siswa bisa belajar pada ruang yang membebaskan, yakni ruang yang tidak diintervensi oleh berbagai kepentingan di luar ranah pendidikan, apalagi subversi politik kekuasaan sebagaimana terjadi selama ini di Indonesia.


"Ruang yang membebaskan adalah tempat di mana siswa memiliki keterikatan emosional terhadapnya, yakni ruang yang didesain menjadi miliknya, bukan yang dirancang untuknya," jelas Prof Ais, saat memaparkan hasil kajian akademiknya tersebut di acara Orasi Ilmiah Guru Besar ITB, Sabtu (13/6/2026). 


Oleh sebab itu, lanjut Prof Ais, ruang belajar harus didesain berbasis penelitian terhadap kebutuhan anak-anak dan remaja, bukan atas dasar projek pembangunan semata. 


Lebih lanjut Prof Ais menjelaskan, karakter diri kreatif dibangun di atas konteks perilaku sosial budaya keseharian yang beragam dan kompleks. Maka desain ruang belajar sejatinya relevan dengan keragaman dan kompleksitas tersebut. 


"Desain ruang belajar modernis yang sekarang masih digunakan telah tidak kontekstual (kadaluarsa) mengingat paradigma kehidupan sosial budaya hari ini-–terutama pada tingkat global—telah jauh meningalkannya," tandasnya.


Dengan disadari bahwa sejarah peradaban Indonesia tidak berjalan linear, melainkan berkelindan dalam kompleksitas, berhubungan sekaligus juga saling bertengan satu lain. Di sini, tradisi dan modernitas dapat hidup berdampingan. 


"Oleh sebab itu, dalam perancangan desain ruang belajar, penggalian dan pemberian nilai baru pada tradisi penting dilakukan. Alih-alih, hal ini justeru yang menjadi karakter posmodernitas," paparnya.


Realitas Ruang Belajar Siswa SD dan Menengah Indonesia


Dijelaskan Prof Ais, selama ini-desain ruang belajar siswa sekolah dasar (SD) dan menengah di Indonesia terkonstruksi sebagai struktur ruang yang sistemik-formalistik. 


Objek-objek yang hadir di ruang belajar telah merupakan satu ketetapan yang tidak bisa diubah. Relasi antara keseluruhan objek tersebut merupakan sebuah sintak (syntax) atau gramatika ruang. 


Dalam situasi itu, pengubahan tata letak dan fungsi objek-objek di dalam ruang akan merusak pesan dan makna yang dikontruksinya. 


Gramatika ruang belajar adalah aturan main (rule of the game) yang dirancang untuk terciptanya pesan dan makna tadi.  Dengan kata lain, struktur ruang belajar akan bermakna jika aturan main itu dilaksanakan dan dipatuhi secara total.


Dalam perspektif semiotika, gramatika desain dan ruang belajar siswa sekolah menengah dan atas di Indonesia merupakan penanda yang merujuk pada konsep tertentu. Konsep yang dimaksud adalah paradigma modernisme. 


Paradigma ini berbasis pada rasionalisme, bersifat sistemik (formalistik), anti tradisi, progresif, dan menatap kedepan dengan menjadikan kemajuan sebagai visi. Kontruksi pesan dan makna yang dibangun modernisme bersifat homogen, tertutup dari kemungkinan makna lain yang dinamis dan kompleks. Ia bersifat sistemik. 


Paradigma modernisme menjadikan individu manusia sebagai pusat, dalam arti sebagai subjek yang eksis dalam sistem rasionalistik yang mengatasi alam, mengatasi keberagaman. Desain ruang belajar siswa sekolah dasar dan menengah di Indonesia beroperasi secara ekplisit sekaligus simbolik dalam mekanisme kerja ideologis demikian.


Paradigma modernisme yang terepresentasi pada desain ruang belajar siswa sekolah dasar dan menengah di Indonesia juga menemukan titik temu dengan projek ideologi dan kuasa negara. Perpaduan keduanya menjadikan ruang belajar siswa sebagai lembaga kontrol bagi aktivitas proses belajar dan mengajar. 


Lembaga Penaklukan Siswa


Secara sistemik dan simbolik, lanjut Prof Ais, desain ruang belajar siswa mengirim pesan dan makna bahwa negara berada pada posisi utama, negara lebih penting daripada belajar itu sendiri. Desain ruang belajar siswa adalah “lembaga penaklukan”.  Sebagai lembaga penakluk, sekolah beroperasi secara halus, simbolik, dan karena itu bersifat ideologis. 


Mekanisme kerja ideologis ini menyebabkan desain ruang belajar siswa diterima tanpa pikiran kritis oleh guru dan siswa itu sendiri. 


Desain ruang belajar siswa sekolah dasar menengah di Indonesia telah diterima secara taken for granted, mitos yang diyakini dan tidak berubah sampai hari ini.


Desain ruang belajar siswa sekolah dasar dan menengah di Indonesia kontradiktif dengan “ruang kolektif” masyarakat dan kebudayaannya sendiri yang berbasis pada kolektivitas atau kebersamaan, yang tercermin pula pada dasar negaranya, yakni Pancasila. 


Secara ironis, desain ruang belajar siswa kontradiktif dengan lambang negara yang dipajang di dalam ruangan itu sendiri, yakni burung Garuda atau populer  disebut Garuda Pancasila. Burung Garuda adalah burung khas Indonesia. 


Sementara Pancasila, sebagaimana ditegaskan oleh Soekarno sebagai perumusnya bahwa dasar negara tersebut dikonstruksi dari nilai-nilai luhur budaya bangsa. Seluruh nilai tersebut berakar pada satu prinsip fundamental, yakni gotong royong. 


"Fakta kontradiksi ini meniscayakan sulit terciptanya pendidikan karakter di Indonesia. Bagaimanapun, basis pengembangan karakter adalah kebudayaan. Sikap menerima tanpa pikiran kritis guru dan siswa terhadap desain ruang belajarnya yang hegemonik tersebut adalah penanda bahwa pembangun karakter guru dan siswa tidak pernah tercipta," jelas Prof Ais.


Rekomendasi Desain Ruang Belajar


Saat memaparkan kajian ilmiahnya di depan para guru besar ITB, Prof Ais merekomendasikan desain ruang belajar sekolah dasar dan menengah Tanah air berdasarkan perspektif Semiotika.   


Berikut rekomendasinya, pertama, sesain ruang belajar siswa bukan hanya infrastruktur fisik sebagai tempat belajar, melainkan juga konstruksi arsitektural substansial sarat makna yang berpengaruh dalam membentuk diri siswa yang berkarakter dan kreatif. Oleh sebab itu, desain ruang belajar harus menjadi pertimbangan dalam pemutusan kebijakan dan penyusunan sistem pendidikan kedepan.

 

Kedua, subjek yang berkarakter dan kreatif hanya dimungkinkan jika siswa bisa belajar pada ruang yang membebaskan, yakni ruang yang tidak diintervensi oleh berbagai kepentingan di luar ranah pendidikan, apalagi subversi politik kekuasaan sebagaimana terjadi selama ini di Indonesia.


Ketiga, ruang yang membebaskan adalah tempat di mana siswa memiliki keterikatan emosional terhadapnya; ruang yang didesain menjadi miliknya, bukan yang dirancang untuknya. Oleh sebab itu, ruang belajar harus didesain berbasis penelitian terhadap kebutuhan anak-anak dan remaja, bukan atas dasar projek pembangunan semata. 


Keempat, karakter diri kreatif dibangun di atas konteks perilaku sosial budaya keseharian yang beragam dan kompleks. Desain ruang belajar sejatinya relevan dengan keragaman dan kompleksitas tersebut. 


Hal ini berarti bahwa desain ruang belajar modernis yang sekarang masih digunakan telah tidak kontekstual (kadaluarsa) mengingat paradigma kehidupan sosial budaya hari ini-–terutama pada tingkat global—telah jauh meningalkannya.


Terakhir atau kelima, dengan disadari bahwa sejarah peradaban Indonesia tidak berjalan linear, melainkan berkelindan dalam kompleksitas, berhubungan sekaligus juga saling bertengan satu lain. Di sini, tradisi dan modernitas dapat hidup berdampingan. 


"Oleh sebab itu, dalam perancangan desain ruang belajar, penggalian dan pemberian nilai baru pada tradisi penting dilakukan. Alih-alih, hal ini justeru yang menjadi karakter posmodernitas," pungkasnya.(k)


Bagikan Berita Ini: